BERITA - bambangpriantono.multiply.com -
Sejatinya tulisan sejenis sudah banyak, hanya saja saya masih tertarik sekali untuk membahasnya kembali. Setiap hari Jumat, para pegawai negeri (kaki tangan negara) diwajibkan untuk memakai batik (bukan pilihan) baik yang berkecimpung dilembaga pemerintahan maupun lembaga pendidikan (baik negeri maupun sebagian swasta). Bahkan anak sekolah terutama dulu, dihari tertentu juga pakai seragam batik. Tapi ya itu tadi, batik masih dipandang sebelah mata karena mengesankan tua, old fashioned alias jadul.Dalam kurun beberapa waktu terakhir, kaum wanita seperti kembali tergila-gila dengan batik, dimana-mana kini mulai banyak ditemui orang-orang berbaju batik dalam berbagai model, entah baju lengan panjang, lengan pendek, sampai dalam bentuk baby dolls dan jilbab, kendati sebenarnya sejak beberapa tahun lalu batik juga menjadi bagian fesyen remaja dalam bentuk celana atau rok, belum menyeluruh. Di kampus-kampus, mall, dan tempat-tempat umum lainnya, tidak pula memandang asal usul penggunanya karena sebenarnya batik bisa dipakai oleh siapa saja. Biasanya batik yang digunakan adalah batik cap, bukan batik tulis, sehingga harganyapun jatuh lebih murah. Satu baby doll dibeberapa tempat bisa didapat hanya dengan Rp 50.000 sampai 69.000 tergantung kualitasnya, bahkan di pasar-pasar tradisional bisa didapat dengan harga lebih miring. Jika yang dipakai sebagai bahan baju batik tulis, pastinya harga akan melambung.Mungkin karena harga murah itulah akhirnya berbondong-bondong kaum remaja putri dan wanita membeli batik hingga penggunanya dapat dijumpai dengan mudah. Biasanya dipadu padankan dengan celana kain atau jeans, sedang yang memakai kerudung dipadu dengan baju kaos lengan panjang hitam dan celana senada/ jeans.Artinya, bisa dech batik jadi baju hang out yang oke. Teman saya yang doyan dugem pernah cerita kalau bule-bule yang dugem disebuah kafe diwilayah Malang banyak yang pake batik saat ajeb-ajeb..Pendeknya sekarang pemasyarakatan batik sudah kembali menemukan jalurnya, dan tinggal waktu yang berbicara apakah trend ini akan berkesinambungan atau tidak? Harapan saya pribadi, semoga terus berlanjut dan jadi ciri bagi masyarakat dunia kalau Indonesia juga punya coraknya sendiri meskipun terkena arus global.Lihat Sumbernya